Namaku
Tedy. Aku mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Bandung. Saat ini
aku kuliah semester II jurusan TI. Sejak awal kuliah, aku tinggal
dirumah kakak ku. “Kak Dewi” begitulah aku memanggilnya. Usianya terpaut
5 tahun denganku. Ia sebenarnya bukan kakak kandungku, namun bagiku ia
adalah kakak dalam arti yang sebenarnya. Ia begitu telaten dan
memperhatikan aku. Apalagi kini kami jauh dari orang tua.
Rumah yang
kami tempati, baru satu tahun dibeli kak Dewi
. Tidak terlalu besar
memang, tapi lebih dari cukup untuk kami tinggali berdua. Setidaknya
lebih baik dari pada kost-kostan. Kak Dewi saat ini bekerja disalah satu
KanCab bank swasta nasional. Meskipun usianya baru 28 tahun, tapi kalau
sudah mengenakan seragam kantornya, ia kelihatan dewasa sekali.
Berwibawa dan tangguh. Matanya jernih dan terang, sehingga menonjolkan
kecantikan alami yang dimilikinya.
Dua bulan pertama aku tinggal
dirumah kak Dewi, semuanya berjalan normal. Aku dan kak Dewi saling
menyayangi sebagaimana adik dan kakak. Pengahasilan yang lumayan besar
memungkinkan ia menangung segala keperluan kuliah ku. Memang sejak masuk
kuliah, praktis segala biaya ditanggung kak Dewi.
Namun dari semua
kekagumanku pada kak Dewi, satu hal yang aku herankan. Sejauh ini aku
tidak melihat kak Dewi memiliki hubungan spesial dengan laki-laki.
Kupikir kurang apa kakaku ini ? cantik, sehat, cerdas, berpenghasilan
mapan, kurang apa lagi ? Seringkali aku menggodanya, tapi dengan cerdas
ia selalu bisa mengelak. Ujung-ujungnya ia pasti akan bilang, “Gampang
deh soal itu, yang penting karier dulu…!”, aku percaya saja dengan
kata-katanya. Yang pasti, aku menghomati dan mengaguminya sekaligus.
Hingga
pada suatu malam. Saat itu waktu menunjukan pukul 9.00, suasana rumah
lengang dan sepi. Aku keluar dari kamarku dilantai atas, lalu turun
untuk mengambil minuman dingin di kulkas. TV diruang tengah dimatikan,
padahal biasanya kak Dewi asyik nongkrongin Bioskop Trans kesayangannya.
Karena khawatir pintu rumah belum dikunci, lalu aku memeriksa pintu
depan, ternyata sudah dikunci. Sambil bertanya-tanya didalam hati, aku
bermaksud kembali ke kamarku. Namun tiba-tiba terlintas dibenakku, “kok
sesore ini kak Dewi sudah tidur ?”, lalu setengah iseng perlahan aku
mencoba mengintip kak Dewi didalam kamar melalui lubang kunci. Agak
kesulitan karena anak kunci menancap dilubang itu, namun dengan lubang
kecil aku masih dapat melihat kedalam.
Dadaku berdegup kencang, dan
lututku mendadak gemetar. Antara percaya dan tidak pada apa yang
kulihat. Kak Dewi menggeliat-geliat diatas spring bad. Tanpa busana
sehelaipun !!!
Ya Ampun ! Ia menggeliat-geliat kesana kemari.
Terkadang terlentang sambil mendekap bantal guling, sementara kedua
kakinya membelit bantal guling itu. Kemudian posisinya berubah lagi, ia
menindih bantal guling. Napasku memburu. Ada rasa takut, malu, dan entah
apalagi namanya. Sekuat tenaga aku tahan perasaan yang bergemuruh
didadaku. Kualihkan pandanganku dari lubang kunci sesaat, pikiranku
sungguh kacau, tak tahu apa yang harus kuperbuat. Namun kemudian rasa
penasaran mendorongku untuk kembali mengintip. Kulihat kak Dewi masih
menindih batal guling. Pinggulnya bergerak-gerak agak memutar, lalu
kemudian dengan posisi agak merangkak ia menumpuk dan memiringkan bantal
dan guling, lalu meraih langerie-nya. Ujung bantal itu ditutupinya
dangan langerie. Kembali aku mengalihkan pandanganku dari lubang kunci
itu. Ngapain lagi tuh ?!!, aku tertegun.
Entah kenapa, rasa takut
dan jengah perlahan berganti dengan geletar-geletar tubuhku. Tanpa sadar
ada yang memanas dan mengeras di balik training yang aku kenakan. Aku
meremasnya perlahan. Ahhh…
Ketika kembali aku mengintip ke dalam
kamar, kulihat Kak Dewi mengarahkan selangkangannya pada ujung bantal
itu, hingga posisinya benar-benar seolah menunggangi tumpukan bantal
itu. Lalu tubuhnya terutama bagian pinggul bergoyang goyang dan
bergerak-gerak lagi, setiap goyangan yang dilakukanya secara reflek
membuat aku semakin cepat meremas batang kemaluanku sendiri. Entah
berapa lama aku menyaksikan tingkah laku kak Dewi didalam kamar. Nafasku
memburu, apalagi manakala aku melihat gerakan kak Dewi yang semakin
cepat. Mungkin ia hendak mencapai orgasme, dan benar saja, beberapa saat
kemudian tubuh kak Dewi nampak berguncang beberapa saat, jemari kak
Dewi mencengkram seprai.
Aku tak tahan lagi. Bergegas aku menuju
kamarku sendiri. Lalu kukunci pintu. Kumatikan lampu, lalu berbaring
sambil memeluk bantal guling dengan nafas memburu. Pikiranku kacau.
Bagaimanapun aku laki-laki normal. Aku merasakan gelombang birahi
menyala dan semakin menyala didalam tubuhku. Dan makin lama makin
membara. Ah… aku tak tahan lagi. Dengan tangan gemetar aku membuka
seluruh pakaian yang kukenakan, lalu aku berguling-guling diatas spring
bad sambil mendekap bantal guling. Aku merintih dan mendesah sendirian.
Diantara desahan dan rintihan aku menyebut-nyebut nama kak Dewi. Aku
membayangkan tengah berguling-guling sambil mendekap tubuh kak Dewi yang
putih mulus. Pikiranku benar-benar tidak waras. Aku membayangkan tubuh
kak Dewi aku gumuli dan kuremas remas. Sungguh aku tidak tahan, dengan
sensasi dan imajinasiku sendiri, aku merintih dan merintih lalu
mengerang perlahan seiring cairan nikmat yang muncrat membasahi bantal
guling. (Besok harus mencuci sarung bantal…masa bodo…!!!!)…………….
Sejak
kejadian malam itu, pandanganku terhadap kak Dewi mengalami perubahan.
Aku tidak saja memandangnya sebagai kakak, lebih dari itu, aku kini
melihat kak Dewi sebagai wanita cantik. Ya wanita cantik ! wanita cantik
dan seksi tentunya. Ah…….! (maafkan aku kak Dewi !)
Terkadang aku
merasa berdosa manakala aku mencuri-curi pandang. Kini aku selalu
memperhatikan bagian-bagian tubuh kak Dewi. Goblok ! mengapa baru
sekarang aku menyadari kalau tubuh kak Dewi sedemikian putih dan moligh.
Pinggulnya, betisnya, dadanya yang dihiasi dua gundukan itu. Ah
lehernya apalagi, mhhh rasanya ingin aku dipeluk dan membenamkan wajah
dilehernya.
“Hei, kenapa melamun aja ? Ayo makan rotinya !“, kata kak
Dewi sambil menuangkan air putih mengisi gelas dihadapanya, lalu
meneguknya perlahan. Air itu melewati bibir kak Dewi, lalu bergerak ke
kerongkonganya…. Ahhh kenapa aku jadi memperhatikan hal-hal detail
seperti ini ?
“Siapa yang melamun, orang lagi …. ammmm mmm enak nih,
selai apa kak ?”, aku mengalihkan perhatian ketika kedua bola mata kak
Dewi menatapku dengan pandangan aneh.
“Nanas ! itu kan selai
kesukaanmu. awas abisin yah !”, kak Dewi bangkit dari tempat duduknya
lalu berjalan membelakangiku menuju wastafel untuk mencuci tangan.
“OK,
tenang aja !”, mulutku penuh roti, tapi pandangan mataku tak berkedip
menyaksikan pinggul kak Dewi yang dibungkus pakaian dinasnya. Alamak,
betisnya sedemikian putih dan mulus…
“Kamu gak pergi kemana-mana kan ?“, kata kak Dewi. Hari sabtu aku memang gak ada mata kuliah.
“Enggak…!”, kataku sesaat sebelum meneguk air minum.
“Periksa semua kunci rumah ya Ted kalo mau pergi. Kemarin di blok C11 ada yang kemalingan….!”.
“Mmhhh… iya, tenang aja…”, kataku sambil merapikan piring dan gelas bekas sarapan kami.
Beberapa
saat kemudian suara mobil terdengar keluar garasi. Lalu suara derikan
pintu garasi ditutup. Dan ketika aku keteras depan, Honda Jazz warna
silver itu berlalu meninggalkan pekarangan.
Setelah memastikan kak
Dewi pergi, aku kemudian mulai mengamati atap dan jarak antar ruangan.
Sejak kemarin aku telah memiliki suatu rencana. Aku mau memasang Mini
Camera kekamar kak Dewi, biar bisa online ke TV dikamarku, he he !.
Sebulan
berlalu, otakku benar-benar telah rusak. Aku selalu menunggu saat-saat
dimana kak Dewi bermasturbasi. Dengan bebas aku melihat Live Show, lewat
mini kamera yang telah kupasang dilangit-langit kamar Kak Dewi. Aman !
sejauh ini kak Dewi tak menyadari bahwa segala gerak-geriknya ada yang
mengamati.
Benar rupanya hasil survai sebuah lembaga bahwa 60 % dari
wanita lajang melakukan masturbasi. Kalau kuhitung bahkan ka Dewi
melakukanya seminggu dua kali. Pasti tidak terlewat ! malam rabu dan
malam minggu. Kasihan kak Dewi. Ia mestinya memang sudah berumah tangga.
Tapi biarlah, kak Dewi toh sudah dewasa, ia pasti tahu apa yang
dilakukannya. Dan yang terpenting aku punya sesuatu untuk kunikmati.
Kalau kak Dewi melakukannya dikamarnya, pasti aku juga. Ahh…..
Seringkali
ditengah kekacauan pikiranku, ingin rasanya aku bergegas kekamar kak
Dewi ketika kak Dewi tengah menggeliat-geliat sendiri. Aku ingin
membantunya. Sekaligus membantu diriku sendiri. Gak usah beneran, cukup
saling bikin happy aja. Tapi aku gak berani. Apa kata dunia ?
Malam
ini. Aku tak sabar lagi menunggu, sudah hampir jam sembilan. Tapi kok
gak ada tanda-tandanya. Kak Dewi masih asyik nongkrongi TV diruang
tengah. Aku kemudian bergegas keluar rumah bermaksud mengunci gerbang.
“Mau kemana Ted ?”,
“Kunci gerbang ah, udah malem !”, kataku sambil menggoyangkan anak kunci .
“Jangan dulu dikunci, temen kak Dewi ada yang mau kesini !”,
“Mau kesini ? siapa kak ?”,
“Santi…yang dulu itu lho !”,
“Ohh…!”, aku mencoba mengingat. Sinta ? ah masa bodo… tapi kalo dia kesini, kalo dia nginep, berarti …? Yah…! hangus deh.
Aku
bergegas kembali kedalam. Dan ketika aku menaiki tangga ke lantai atas,
HP kak Dewi berdering. Kudengar kak Dewi berbicara, rupanya temennya si
Sinta brengsek itu udah mau datang. Huh !
Aku hampir aja ketiduran.
Atau mungkin memang ketiduran. Kulihat jam menunjukan pukul 10.30 malam,
ya ampun aku memang ketiduran.
Cuci muka di wastafel, lalu aku
ambil sisa kopi yang tadi sore kuseduh. Dingin tapi lumayan daripada gak
ada. Lalu seteguk air putih. Lalu sebatang Class Mild. Dan, asap
memenuhi ruang kamar. Kubuka jendela, membiarkan udara malam masuk
kekamarku. Sepi. Temennya kak Dewi udah pulang kali ?!.
Kunyalakan
TV, tapi hampir seluruh chanel menyebalkan, Kuis, Lawakan, Ketoprak,
Sinetron Mistery, fffpuih ! kuganti-ganti channel tapi emang semua
chanell menyebalkan, lalu kutekan remote pada mode video…lho apa itu…?!
Ya
ampun ! sungguh pemandangan yang menjijikan. Apa yang akan dilakukan
kak Dewi dan temannya itu. Aku geleng-geleng kepala, ada rasa marah,
kesal. Aku tidak menyangka kalau kak Dewi ternyata menyukai sesama
jenis. Apa kata Mama. Ya ampuuuuun…!
Kumatikan TV. Aku termenung beberapa saat.
Aku ambil gelas kopi, satu tetes, kering. Ah air putih saja. Aku habiskan air digelas besar sampai tetes terakhir.
Tapi….,
aku tekan lagi tombol power TV, Upps… masih On Line ! Aku melihat kak
Dewi dengan temannya berbaring miring berhadapan. Aku yakin mereka tanpa
busana. Meskipun berselimut, bagian pundak mereka yang tak tertutup
menunjukan kalau mereka tak berpakaian. Mereka saling menatap dan
tersenyum. Tangan kiri kak Sinta mengelus-elus pundak kak Dewi.
Sementara kuperhatikan tangan kak Dewi nampaknya mengelus-elus pinggang
kak Sinta, tidak kelihatan memang tapi gerakan-gerakan dari balik
selimut menunjukan hal itu. Lama sekali mereka saling pandang dan saling
tersenyum. Mungkin mereka juga saling berbicara, tapi aku tak
mendengarnya karena aku tidak memasang Mini Camera dengan Mic.
Perlahan
kepala kak Sinta mendekat, tangannya menghilang kedalam selimut dan
menelusuri punggung kak Dewi. Aku Cemburu ! Mereka berciuman dengan
penuh perasaan, perlahan saling mengulum dan melumat. fffpuih ! Ternyata
benar-benar ada tugas pria yang dilakukan oleh wanita.
Untuk
beberapa saat mereka berciuman dan saling meraba. Aku jadi menahan
nafas. Mungkin aku juga ketularan tidak waras, rasanya ada satu gairah
yang perlahan bangkit didalam tubuhku. Bahkan, aku mulai mendidih !
Sesaat
kak Sinta nampak menelusuri leher kak Dewi dengan bibir dan lidahnya,
aku mengusap leherku sendiri. Entah kenapa aku merasa merinding nikmat.
Apalagi melihat ekpresi kak Dewi yang pasrah tengadah, sementara kak
Sinta dengan lembut bolak-balik menjilat leher, dagu, pangkal telinga.
Aku tak tahan melihat kak Dewi diperlakukan seperti itu. Setelah
mematikan lampu, aku kemudian beranjak ke atas spring Bad, mendekap
bantal guling, sementara mataku tak lepas dari layar TV.
Situasi
semakin seru, kak Dewi kini yang beraksi, ia kelihatan agak terlalu
terburu-buru. Dengan penuh nafsu ia menjilati dan menciumi leher kak
Sinta yang kini terlentang ditindih kak Dewi. Kepala kak Sinta
mendongak-dongak, aku yakin ia tengah merasakan gelenyar-gelenyar nikmat
dilehernya. Kemudian kak Dewi berpindah menciumi dada kak Sinta,
sekarang baru nampak jelas wajah kak Sinta. Ia ternyata cantik sekali,
bahkan sedikit lebih cantik dari kak Dewi. Ah aku terangsang. Tonjolan
dibalik kain sarung yang kukenakan makin mengeras. Agak ngilu terganjal
ujung bantal guling, sehingga perlu kuluruskan.
Kak Dewi benar-benar
beraksi, ia menciumi dan melahap payudara kak Sinta. Wajah kak Sinta
mengernyit, dan mulutnya terbuka, apalagi ketika kak Dewi mengemut
putting susunya. Ia Menggeliat-geliat sementara kedua tangannya mendekap
kepala kak Dewi. Bergantian kak Dewi mengerjai kedua payudara kak
Sinta. Kak Sinta menggeliat-geliat. Semakin liar, apalgi ketika kak Dewi
menyelinap ke dalam selimut. Tiba-tiba kepala Kak Dewi muncul lagi dari
balik selimut, tengadah mungkin ia tersenyum atau tengah mengatakan
sesuatu, karena kulihat kak Sinta tersenyum, lalu sebuah kecupan
mendarat dikening Kak Dewi. Sesaat kemudian kak Dewi menghilang lagi ke
dalam selimut. Kak Sinta tampak membetulkan posisi badannya, selimutnya
juga dirapihkan, aku tak dapat melihat apa yang tengah dilakukan kak
Dewi, tapi menurut perkiraanku kepala kak Dewi tepat diantara
selangkangan kak Sinta. Entah apa yang tengah dilakukannya. Namun yang
terlihat, kak Sinta mendongak-dongak, kedua tanganya meremas-remas
kepala kak Dewi. Kepala kak Sinta bergerak kekanan dan kekiri. Tubuhnya
juga menggelinjang kesana sini. Kondisi seperti itu berlalu cukup lama.
Aku keringatan. Nafasku memburu. Tanpa sadar kubuka kaus yang kukenakan,
lalu kulemparkan kain sarungku. Kemaluanku mengeras, menuntut
diperlakukan sebagaimana mestinya. Ah… edan !
Tiba-tiba aku lihat kak
Sinta mengejang beberapa kali. Pinggulnya mengangkat, kedua pahanya
menjepit kepala kak Dewi. Mengejang lagi, sementara kepalanya mendongak
kekanan dan kiri. Ia terengah-engah, lalu sesaat kemudian terdiam.
Matanya terpejam. Kemudian kak Dewi muncul dari balik selimut, ia nampak
mengelap mulutnya dengan selimut. Paha kak Sinta tersingkap karenanya.
Kak Sinta kemudian meraih kedua bahu kak Dewi, mendaratkan kecupan
dikening, pipi kanan dan kiri kak Dewi, lalu merangkul kak Dewi ke dalam
pelukannya. Beberapa saat mereka berpelukan. Aku yang menyaksikan
kejadian itu hanya dapat menahan napas, sementara tangan kananku
meremas-remas dan mengurut kemaluanku sendiri.
Dan, kemudian mereka
nampak berbincang lagi, lalu kak Dewi membaringkan badanya. Terlentang.
Kak Sinta menarik selimut, lalu menyingkirkannya jauh-jauh. Kak Dewi
kelihatan protes, tapi protes kak Dewi dibalas dengan lumatan bibir kak
Sinta. Tubuh kak Sinta menindih tubuh kak Dewi. Aku melihat, dengan
mata kepalaku sendiri. Dua wanita cantik, dua tubuh indah dengan kulit
putih mulus, tanpa busana, tanpa penutup apapun. Saling menyentuh.
Kak
Sinta kini yang bertindak aktif, ia kini menjilati leher, pangkal
leher, bahu, dada, payudara kanan dan kiri. Kak Dewi nampak pasrah
diperlakukan seperti itu. Kak Sinta nampak lebih terampil dari kak Dewi,
hampir setiap inci tubuh kak Dewi dijilati dan dikecupnya. Bahkan kini
ia menelusuri pangkal paha kak Dewi dari arah perut dan terus bergerak
ke awah. Kak Dewi hendak bangun, kedua tanganya seolah menahan kepala
kak Dewi yang terus bergerak ke bawah, entah mungkin karena geli atau
nikmat yang teramat sangat. Tapi tangan kak Sinta menahanya, akhirnya
kak Dewi menyerah. Dihempaskannya tubuhnya ke atas spring bad.
Kak
Sinta kini menciumi paha, lutut, bahkan telapak kaki kak Dewi. Tangan
kanan kak Dewi mengusap-usap kemaluannya, sementara jari-jari tangan
kirinya dimasukan kedalam mulutnya sendiri. Ia mengeliat-geliat. Tubuh
kak Sinta kemudian berubah lagi. Ia kini telah siap berada diantara paha
kak Dewi. Kak Sinta menarik bantal dan meletakannya, dibawah pinggul
kak Dewi, sehingga tubuh bagian bawah kak Dewi makin terangkat. Kepala
kak Dewi terjepit persis diantara selangkangan kak Dewi. Sebelah
tangannya meremas-remas payudara kak Dewi. Aku lihat tubuh kak Dewi
mengelinjang-gelinjang. Tak sadar aku turut merintih. Semakin kak Dewi
menggelinjang, nafasku semakin memburu. Tubuhku kini mendekap dan
mengesek-gesek bantal guling, dan batang kemaluanku menggesek-gesek
ujungnya. Nikmat, entah apa yang kini berada didalam pikiranku. Yang
pasti aku turut larut dalam situasi antara kak Dewi dan kak Sinta.
“Kak Dewiii… kak Sinta……, ini Tedy… asssshhh..ahh kak…aku juga..!”, aku merintih dan terus merintih.
Semakin
lama kak Dewi kulihat semakin liar, badannya bergerak-gerak, naik-turun
searah pinggulnya. Kedua tangannya menangkup kepala kak Sinta. Semakin
lama gerakan kak Dewi semakin liar, lalu pessss, TV mendadak padam.
Sialan ! lampu diluar juga padam. Gelap gulita. PLN sialan !
Brengsekkkkkk !!!
Aku terengah-engah, dalam kegelapan. Sudah kadung
mendidih, aku teruskan aksiku meski tanpa sensasi visual. Aku merintih
dan mendesah sendiri dalam kegelapan. Aku yakin disana kak Dewi dan kak
Sinta pun tengah merintih dan mendesah, juga dalam kegelapan…….
Dor ! Dor ! Dor !
“Tedy… bangun, udah siang !“, suara ketukan atau entah gedoran pintu membangunkan aku. Rupanya sudah siang.
“Bangun…!”, suara kak Dewi kembali terdengar.
“Iya..! udah bangun…”, teriakku. Lalu terdengar langkah kaki kak Dewi menjauh dari pintu kamarku.
Ya ampun ! aku terkaget. Berantakan sekali tempat tidurku. Dan bantal guling…, bergegas aku buka sarungnya. Wah nembus !
Dengan
terburu-buru kurapikan kamarku, jam menunjukan pukul 8 pagi. Kalau
tidak khawatir mendengar kembali teriakan kak Dewi yang menyuruh sarapan
mungkin aku memilih untuk tidur lagi. Akhirnya aku keluar kamar,
mengambil handuk, dan bergegas kekamar mandi.
Didekat ruang makan aku
berpapasan dengan kak Dewi yang membawa nasi goreng dari dapur. Namun
bukan itu yang menarik perhatianku. Rambut lepek kak Dewi yang belum
kering benar jelas terlihat. Aku teringat kejadian tadi malam. “abis
keramas nih yee !”, kataku dalam hati.
“Apa senyam-senyum gitu ?”, kak Dewi menatapku heran.
“Enggak …! Siapa… lagi yang senyam-senyum. Mmm enak !”, kataku sambil menyuap sesendok nasi goreng hangat.
“Mandi dulu sana, dasar jorok !”, kata kak Dewi sambil meletakan piring yang dipegangnya.
“Jorokan juga kak Dewi, gituan dijilatin hiiii….”, kataku dalam hati, tapi kemudian bergegas mandi, eh keramas juga !
Segar sehabis mandi, hampir aku balik lagi ketika menyadari dimeja makan Kak Dewi tengah sarapan ditemani kak Sinta.
“Ikutan
Indonesian Idol dong ted !, jangan cuma berani nyanyi dikamar mandi aja
!”, itu kalimat yang pertama kudengar dari kak Sinta. Cantik. Bener-
benar cantik. Sumpah ! tapi matanya itu ! aku merasakan keliaran
dimatanya ketika menatapku yang hanya terbungkus handuk sepinggang.
“Eh, maaf kirain gak ada kak Sinta, maaf yah…permisi !”, kataku sambil berlalu.
Buru-buru
aku ganti baju, menyisir rambut. Ah kenapa aku ingin nampak keren.
Karena ada kak Sinta yang cantik kali ya ? Pandang dari kiri dan kanan.
Sip ! Turun kembali ke lantai bawah, menikmati dua wajah cantik, dan
sepiring nasi goreng bertabur SoGood Sozzis.
“Nih buruan, sarapan
dulu !”, kak Dewi yang kemudian menyuruhku sarapan, sementara mereka
sendiri telah selesai. Aku lalu sarapan dengan diawasi oleh dua mahluk
cantik yang tidak buru-buru beranjak dari meja makan. Mereka berbincang
ngalor ngidul seputar dunia kerja. Sesekali aku menimpali meskipun
mungkin enggak nyambung. “Dasar kuli, hari libur gini masih aja ngurusin
kerjaan !”, aku membatin.
“Tumben dihabisin ?”, kata kak Dewi melihat aku makan dengan lahap.
“Abis enak sih !”,
“Biasanya, dia tuh ! susah makannya, di masakin ini-itu…!”,
“Bohong kak ! jangan dengerin !”, kataku menimpali ucapan kak Dewi
“Alah…
emang biasanya gitu kok !”, kak Dewi memotong ucapanku. Kak Sinta hanya
tersenyum aja. Manis lagi senyumnya. Mmmuah ! ingin rasanya kusentuh
bibirnya itu.
Seminggu berlalu, setiap hari rasanya aku menjadi
tambah bejat. Pikiranku kotor terus. Terbayang kak Dewi dan kak Sinta.
Namun yang lebih sering menari-nari dalam khayalanku kemudian adalah
sosok kak Dewi. Mungkin karena ia yang tiap hari ketemu. Sehingga
pikiran kotorku kemudian mengacu kepadanya. Aku merasa bersalah karena
kemudian khayalanku semakin kacau. Aku begitu terobsesi dengan kak Dewi.
Setiap menjelang tidur, pikiranku melayang-layang membayangkan kak
Dewi. Aku ingin merasakan kehangatan tubuh mulusnya, mengecap setiap
inci kulit halusnya. …ahhhhhh…..!!!
Rasanya semua hal yang
berkaitan dengan kak Dewi membuatku terangsang. Melihat pakaiannya yang
lagi dijemur saja aku terangsang. Bahkan entah berapa kali ketika kak
Dewi tidak ada dirumah, aku mempergunakan benda-benda pribadi kak Dewi
menjadi objek fantasiku. Dan makin lama aku makin berani, hingga aku
melakukan self service, di kamar kak Dewi, ketika tidak ada kak Dewi
tentunya. Seperti siang itu, sebotol Hand Body Lotion milik kak Dewi
kugenggam erat. Aku terlentang diatas spring bad kak Dewi. Isi lotion
telah kukeluarkan sehingga melumuri kemaluanku yang mengacung. Kuurut
perlahan, menikmati sensasi yang membuai, sambil sesekali aku menciumi
celana dalam pink kak Dewi. Aku benar-benar hanyut dan terbuai dalam
kenikmatan. Sehingga aku tak begitu menghiraukan ketika ada suara-suara
didepan rumah. Ah… kak Dewi biasanya pulang jam 6.30, sekarang baru jam 2
siang…. Aman..Ach….shhhh…..
Aku terhanyut dan bergelenyar penuh kenikmatan hingga….
Jeckrek !!! kunci pintu depan dibuka dari luar, lalu pintu terbuka.
Seseorang masuk. Ya ampun ! aku sungguh panik. Kak Dewi Pulang !!!
Dengan gemetar dan penuh ketakutan aku mengenakan celana. Ya ampun, berantakan begini, dan… Hand Body Lotion tumpah… mati gue !
Tak dapat dicegah karena pintu kamar memang tak kukunci. Blak…pintu didorong dari luar…
“Tedy…! Ngapain kamu ?”, mata kak Dewi menatapku tajam.
“ng..mmm ini lagi !”, aku tak berkutik. Baju yang kugunakan mengelap
ceceran Hand Body Lotion di seprai kugenggam erat. Wangi Hand Body
Lotion tercium kemana-mana. Keringat dingin membasahi tubuhku yang hanya
mengenakan training. Napasku tercekat manakala menyadari tatapan kak
Dewi ke atas tempat tidur, celana dalam ka Dewi, langerie kak Dewi,
bantal guling, dan celana dalamku yang tak sempat kupakai atau
kusembunyikan. Shittttt….sialan!
Kak Dewi menghela nafas panjang dan
berat, tatapannya sungguh menakutkan. Aku menggigil gemeteran. Kak Dewi
pastinya dapat menebak kelakuanku.
“Kok cepet pulangnya kak ?”,
dengan susah payah aku bersuara. Tapi kak Dewi tak memperdulikanku. Ia
berlalu, langkah kakinya menjauhi kamar. Lalu terdengar dentingan gelas,
dan pintu lemari es dibuka.
Bergegas aku membereskan segala yang berantakan, sekedarnya. Lalu buru-buru meninggalkan kamar kak Dewi !
“Anjing…!,
brengsek “, kataku sambil meninju dinding. “Bodoh, bodoh !”, aku
mengutuk diriku sendiri. Aku malu sekali. Dengan penuh ketakutan aku
bergegas ganti baju. Pikiranku kacau sekali. Aku dengan mengendap keluar
rumah, motorku-pun kudorong keluar halaman. Lalu aku kabur…ketempat
kost temanku.
Tiga hari aku aku tak pulang, temanku sampai
terheran-heran dengan kelakuanku. Tapi aku simpan rapat-rapat masalah
yang sebenarnya. Aku hanya bilang lagi berantem sama kakaku.
Tadinya
aku kebingungan juga kelamaan tidak pulang, mau pulang juga rasanya
bagaimana. Namun sebuah telpon dari kak Dewi membuat semuanya lebih
baik,
“Tedy kamu kemana aja ? kamu dimana ?”, terdengar suara kak
Dewi di HP ku, datar. “mm ng… dirumah temen kak ?”, kataku sedikit
bergetar.
“Pulang…nanti kalo mamah nanya gimana ?”, suara kak Dewi
masih terdengar datar. Tapi setidaknya hal itu membuatku sedikit lega.
“Iya kak !”, lalu tak terdengar lagi suara kak Dewi. Aku tertegun
beberapa saat, namun kemudian aku memutuskan untuk pulang.
Tiba
dirumah, tatapan kak Dewi menyambutku. Aku tak berani menatap wajahnya.
“kamu kemana aja ?”, suara kak Dewi masih terdengar datar seperti
ditelepon. “Mmm…dari rumah Wawan kak !”,
“Makan dulu…tuh kakak udah
masak !”, terdengar suara kak Dewi dari ruang tengah. “Iya kak !”,
bergegas aku ke meja makan. Melahap makanan yang tersedia dimeja makan,
emang gua laperrrr !
Besoknya, suasana masih terasa amat hambar. Kak
Dewi tak mengucap sepatah katapun. Ia membuang muka ketika berpapasan
dengan aku yang bermaksud ke kamar mandi. Selesai mandi, ganti baju,
kembali keruang makan. Aku dan kak Dewi sarapan seperti biasanya, tapi
rasanya suasana betul-betul mencekam. Kak Dewi nampak buru-buru
menyelesaikan sarapannya. Akupun bergegas menghabiskan sisa makananku.
“Kak, maafin Tedy yah !”, kataku sambil meletakan gelas yang airnya habis kuteguk.
Kak Dewi tak bersuara, tapi matanya menatapku, penuh keheranan dan tanda tanya, atau mungkin tatapan apa itu artinya. Entahlah.
Beberapa
hari kemudian setelah situasi dirumah mulai terasa normal, malam itu
kak Dewi diruang tengah nonton TV atau mungkin membaca majalah. Entahlah
atau bisa kedua-duanya, soalnya TV dinyalakan tapi ia asyik membaca
majalah sambil telungkup dipermadani. Dagunya diganjal dengan bantal
guling. Aku kemudian duduk disofa, tepat dibelakangnya. Rasanya badanku
gemetar menyaksikan pandangan dihadapanku. Sittttt !!!! Pikiran gilaku
melintas lagi. Pantat kak Dewi yang hanya dilapisi selembar baju tidur
tipis begitu indah terlihat. Garis celana dalam yang dikenakanya nampak
menggurat. Betisnya itu, alamak. Aku tak tahan ingin mengecapnya dengan
lidahku. Dan…
“Bikin minum dong, haus nih…!”, Kak Dewi membalikan
badannya, dan melihat kearahku yang tengah menikmati bagian belakang
tubuhnya.
“Orange, atau susu ?”, tanpa sadar aku melirik kearah dadanya.
Kak Dewi merasakan pandangan mataku, ia membetulkan leher bajunya.
“Susu deh ! tapi jangan penuh-penuh yah !”,
“Ok
!”, lalu aku pergi ke ruang sebelah. Seperti kebiasaannya kalau bikin
susu ia pasti hanya minta setengah gelas. “Takut gak abis”, katanya !
“Nih
kak !”, kataku sambil meletakkan gelas susu disebelah kanan. Lalu aku
bergerak kesebelah kiri kak Dewi. Kak Dewi segera mereguk minuman yang
kusediakan untuknya itu. Aku sendiri meraih majalah yang tengah dibaca
Kak Dewi.
“Ih apaan nih, sini ! orang lagi dibaca juga !”, kak Dewi
berusaha meraih majalahnya kembali. Akhirnya kulepaskan. Aku mengambil
remote TV. Sambil tengkurap disamping kak Dewi, aku memindah-mindah
chanel.
“Kebiasaan Tedy mah, pindah-pindah terus, balikin TransTV !”,
katanya sambil berusaha meraih remote. Akupun menyerah, kukembalikan
channel ke TransTV.
Lalu aku memiringkan badan, sekarang aku
menghadap kearah kak Dewi. Menatapnya dalam-dalam. Ah… kakak ku sayang,
engkau cantik sekali. Lalu aku mutup kedua mataku rapat-rapat.
“Kak mau tanya, boleh ?”, kataku sambil tetap memejamkan mata.
“Tanya apa sih !”, ia menjawab tanpa menoleh.
“ng…mmmm kenapa Tedy akhir-akhir jadi aneh yah ?”,
“Maksudnya apa ?”,
“Tapi kak Dewi jangan marah yah !”,
“Akhir-akhir ini, tedy sering error. Pikiranya yang begituuu.. aja. Gak siang gak malem, pusing deh !”,
“Mikirin apa sih ?”,
“Ah…
kak Dewi ini. Maksud Tedy… mmm jangan marah yah. Rasanya Tedy gampang
terangsang deh !”, kubuka mataku, keterkejutan nampak diwajah kak Dewi.
Lalu ia menghela nafas panjang.
“Kebanyakan nonton film jelek kali. Tuh dikomputer hapus-hapusin gambar gambar jelek kayak gitu !”,
“Bisa juga sih…, kalau masturbasi bahaya enggak sih kak?”, aku kembali melontarkan pertanyaan yang mengagetkannya.
”Apaan sih gituan di tanya-tanyain ?!”, nampak kak Dewi agak gusar menimpali pertanyaanku.
“Kalau kata temen tedy sih, mendingan masturbasi daripada main sama cewek nakal, bisa penyakitan !”,
Tak terdengar komentar. Waduh aku kehabisan kata-kata.
“Sebenarnya gara-gara kak Dewi sih !”, dan aku menunggu. Benar saja, kak Dewi bereaksi. Ia menatapku penuh tanya.
“Menurut sebuah survai, 60 % wanita lajang melakukan masturbasi, bener kan ?”, aku kembali melontarkan pukulan kata-kata.
“Kata siapa kamu ?”,
“Kata koran dannnnn… lubang kunci !”,
“Maksud Tedy apa sih…? Kakak jadi pusing !”,
“Tedy tahu rahasia kak Dewi !”,
“Rahasia apa ?”,
“Kak
Dewi suka menggeliat-geliat ditempat tidur tanpa pakaian dan memeluk
bantal guling !”, akhirnya. Mata Kak Dewi membeliak kaget. Tatapan
matanya menyiratkan rasa marah dan malu, tapi ia berusaha menutupinya.
“Kamu ngintip ?”,
“Gak sengaja sih…!”, kubenamkan mukaku dipermadani sambil menunggu efek selanjutnya.
“Tapi
tenang aja. Rahasia kak Dewi aman kok ditangan Tedy. Dan rahasia Tedy
ada ditangan kak Dewi. Sama-sama aman ok ?!”, Kak Dewi tak bersuara.
Benar-benar terdiam. Ia malah membolak-balikan halaman majalah.
“Meskipun
ada satu rahasia lagi !”, tampak wajah kak Dewi kembali menegang.
Pandanganya mengarah kepadaku, yang kini juga menatapnya.
“Kak Sinta…
!”, kataku. Kak Dewi benar-benar terhenyak. Ia bangkit hingga terduduk.
Aku membalikan badan, terlentang disamping kak Dewi.
“Tenang aja. Tedy gak akan membocorkannya ke siapa-siapa kok !”,
“Tedy tahu semuanya ?”, kata kak Dewi tiba-tiba. Pandangan matanya kini memelas dan penuh ketakutan. Aku menganggukan kepala.
“Jangan bilang siapa-siapa, jangan bilang mamah. Please !”, kak Dewi mengguncang bahuku.
“Tenang…pokoknya aman !”,
Kak
Dewi nampak gelisah. Aku tidak tega melihatnya. Kak Dewi yang sangat
baik padaku telah aku antarkan pada suatu kondisi serba salah dan
menakutkan baginya. Tapi sudahlah.
Tiba-tiba terdengar dering telp, bergegas aku bangun dan mengangkat gagang telpon.
“Halloo..!”, terdengar suara perempuan diseberang sana.
“Hallo…!”, kataku
“Ini tedy yah ?, kak Dewi ada ?”, suara itu terdengar lembut.
“ng.. ini siapa yah ?”, kataku sambil menduga-duga.
“Ini Sinta…kak Dewi-nya ada ?”,
“Ada…sebentar ya kak !”, kataku.
“Kak…
ini kak Sinta !”, kataku pada kak Dewi. Kulihat tiba-tiba expresi kak
Dewi menegang. Namun tak urung ia mendekatiku, dan menerima gagang
telepon yang kusodorkan.
“Haloo..”,
Aku bergegas pergi, tak ingin
mengganggu “sepasang kekasih” yang telepon-an. Aku naik ke lantai atas,
menuju kekamarku sendiri. Kukunci pintu kamar, mematikan lampu, dengan
perasaan campur aduk.
Beberapa saat kemudian kudengar langkah kaki
kak Dewi di tangga menuju kearah kamarku. Lalu tiba-tiba aku mendengar
ketukan dan suara kak Dewi. Aku terdiam, menunggu. “Tedy…!”, kembali
terdengar ketukan. Kunyalakan lampu lalu membuka kunci pintu kamar.
Tanpa kupersilahkan kak Dewi menyeruak masuk lalu duduk dipinggir
tempat tidur. “Tedy…”, kak Dewi tiba-tiba memecahkan keheningan.
Aku yang hendak menyalakan rokok, menoleh.
Kulihat
kak Dewi menatapku dalam-dalam. Nampaknya ada sesuatu yang ingin
diucapkanya. Tak jadi menyalakan rokok. Aku menarik kursi, dan
membalikanya sehingga menghadap kearah kak Dewi. Lalu aku duduk
dihadapan kak Dewi. “Tedy bisa pegang rahasia kan ?”, ia menatapku
sungguh-sungguh. Ada ketakutan dimatanya.
“Masalah apa ?”,
“Sinta…!”,
“Oh…!”, aku mengangguk perlahan.
“Jangan sampai Mamah tahu !’,
Aku hanya menatapnya, lalu tersenyum hambar.
“Janji ?!”, kak Dewi menatapku dalam-dalam.
“Janji !”, kataku sambl mengacungkan telunjuk dan jari tengahku.
“Tedy boleh minta apa aja, pasti kakak turutin, syaratnya satu, gak boleh bocorin rahasia !”,
“Tenang…aman !’, kataku agak bergetar.
“Tedy mau minta apa sama kaka?”, nampaknya kak Dewi mencoba bernegosiasi, he he….
“ng…gak
minta apa-apa deh…mmm…”, sungguh tak terpikir untuk minta sesuatu pada
kak Dewi, lagi pula aku sama sekali gak kepirkiran untuk membocorkan
rahasianya. Namun tatapan liarku kearah dada ka Dewi sungguh
dinterpretasikan oleh kak Dewi.
“Kakak tahu kok apa yang Tedy
inginkan, sini…!”, kak Dewi menepuk spring bad, mungkin maksudnya
menyuruhku duduk disampingnya. Aku ragu sesaat.
“Sini….!”, katanya mengulang.
Meskipun
ragu aku kemudian beranjak, dan dengan bingung aku duduk disebelahnya.
Darahku berdesir saat jemari lembut kak Dewi mengusap punggung tanganku.
Lalu ia meraih telapak tanganku. Jemari tanganku digenggamnya.
“Pasti Tedy sekarang lagi error !”, tiba-tiba kak Dewi berkata datar,
“Apaan sih kak ?”, kataku agak jengah.
“Pake
pura-pura lagi !”, kak Dewi mendorong tubuhku. Karena Kak Dewi
mengisyaratkan agar aku terlentang maka aku segera terlentang dengan
kakiku menjuntai kelantai.
“Tedy pengen ini kan ?”, jemari kak Dewi
merayapi pahaku. Aku terhenyak menahan nafas. Kemudian kak Dewi tanpa
ragu mulai meremas kemaluanku perlahan, ahh….., kedua lututku terangkat
parlahan, lalu kuturunkan lagi.
“Kak…”, kataku lirih
“sst…kakak
tahu apa yang Tedy inginkan, tenang aja…”, kak Dewi benar-benar
meremas-remas kemaluanku. Geletar nikmat perlahan merayap, seiring makin
mengerasnya batang kemaluanku. Kuraih bantal, kudekap hingga menutupi
mukaku. Rasa jengah dan nikmat membaur menjadi satu.
“Pake malu-malu
lagi !”, kak Dewi memaksaku melepaskan bantal. Akhirnya untuk aku hanya
bisa menutup mata dan menikmati gelenyar kenikmatan dari setiap remasan
tangan kak Dewi. “Ah…shhh..kak….!”,
Tanganku perlahan merayap kearah
pinggang kak Dewi, meremasnya perlahan seiring geliat kenikmatan. Aku
semakin berani karena kak Dewi tak menolak remasan tanganku
dipinggangnya.
Tiba-tiba, “Udah ya…cukup segitu aja !”, tiba-tiba kak Dewi menghentikan remasan tanganya.
“Ah kakak !”, aku merintih kecewa, hampir aku melonjak bangun.
“Kenapa ?”, ia menatapku, sebuah senyum seolah menggoda aku yang tengah konak.
“Tanggung…please…!”, aku merintih dan memelas.
“Dasar….”, katanya sambil memijit hidungku.
Tanpa ragu aku melepaskan training yg kukenakan, kemaluanku yg sungguh telah mengeras, mendongak…
Nampak
ada rasa jengah pada tatapan kak Dewi, aku bangkit dari tidurku,
“Please…!”, lalu kuraih tangan kak Dewi agar menjamah kemaluanku.
Akhirnya tak urung kak Dewi menuruti kemauanku.
Kembali kuhempaskan
tubuh, lalu menunggu kak Dewi melakukan hal yg seharusnya. Tangan lembut
dan halus kak Dewi menggenggam kemaluanku, nampaknya ia agak ragu,
badanku mengerjap sesaat, ketika tangan kak dewi mulai meramas
kemaluanku dengan perlahan. Kupenjamkan mata, menikmati setiap
kenikmatan yang datang. Semakin lama keinginanku semakin kuat. Aku
merintih, mendesah dan sesekali menggeliat.
Remasan tangan kak Dewi
memang nikmat, namun semakin lama aku menginginkan lebih, lalu aku
meraih Hand Body dari sela-sela pinggir springbad, dengan gemetar
kusodorkan pada kak Dewi.
“Apa ini ?”,
Meski terlihat ragu,
perlahan kak Dewi meraih Hand Body Lotion, membuka tutupnya,
menumpahkannya ditangan kanannya. Lalu ia melumuri kemaluanku. Ahhh..
“Maafin Tedy ya kak !”,
“Iya anak nakal !”, katanya. Mungkin seharusnya ia tersenyum tapi aku tidak melihatnya.
“Digimanain ?”, katanya berbisik perlahan.
“Urut aja, keatas dan kebawah, pelan-pelan !”,
“Begini…!”,
“Ya…ah…
shhh… kak Dewi…!”, akupun tenggelam dan terbuai dalam kenikmatan.
Belaian lembut tangan Kak Dewi sungguh membuat aku terlena. Dan tanpa
kuminta kak Dewi telah cukup paham ketika sudah agak mengering dan kesat
ditambahkannya lagi cairan Hand Body itu. Ia telah tahu yang
kuinginkan. Caranya mengurut dan meremas sungguh sempurna. Aku kemudian
hanya bisa pasrah, merintih dan mendesah.
“ssshhhh… kaka…mkasihhhh…. Mmmm shhhhh enak !”,
Aku
terus merintih dan merintih. Kak Dewi benar-benar memanjakan aku. Ia
mengurut dan membelai membuat aku terasa melambung-lambung. Tapi lama
kelamaan ada rasa ngilu dikemaluanku. Makin lama makin ngilu.
“kenapa
? udah ?”, kak Dewi bertanya ketika tanganku menahan gerakan tanganya
yang masih mengurut dan membelai. “Ngilu…!”, kataku berbisik.
Lalu
aku bangkit dari tempat tidurku, sehingga kami duduk berdampingan. Kak
Dewi terlihat berusaha mengelap cairan Hand Body yang berlepotan
ditanganya. Trainingku menjadi korban. Tanggung sekalian kotor, akupun
mengelap kemaluanku dari cairan handbody. Kami terdiam, beberapa saat.
“Tahu enggak sebenarnya Tedy suka pake bantal guling. Seperti Kak Dewi !”,
“Apa enaknya…!”, pertanyaan itu seolah terlontar begitu saja.
“Ya enak aja. Gesek-gesek. Sambil membayangkan sedang memeluk kak Dewi !”.
“Dasar !”, ia memelintir kupingku.
“kak Dewi…!”,
‘Apa..?”,
‘Tanggung nih !”,
“Tanggung apanya ?”,
“Pura-pura jadi bantal guling mau ?”,
“Apalagi nih !”,
“Tedy
gak tahan nih. Tapi kak Dewi gak usah khawatir. Tedy gak merusak
apapun. Kak Dewi tetap berbaju lengkap. Kak Dewi hanya berbaring aja.
Nanti Tedy…!”, kak Dewi terdiam tak menjawab.
“Cuma gesek-gesek aja !”, aku kemudian menandaskan.
“Gimana ? kamu ini aneh-aneh aja ?”,
“Berbaring
dulu kak Dewi-nya. Pokonya aman deh. Tedy gak bakalan merusak apapun.
Janji !”, kataku sambil setengah mendorong tubuh kak Dewi.
Kak Dewi tak urung menurut. Ia beringsut keatas spring bad, lalu kubaringkan tubuhnya hingga terlentang.
Dengan
bergetar kemudian aku berbaring menyamping. Lalu kakiku menyilang
keatas dua kakinya. Selangkanganku kini menempel ke pahanya. Sayang
masing terlindung pakaian yang dikenakannya. Tapi lumayan enak. Lalu aku
mulai menggesek-gesekan kemaluanku kepaha kak Dewi. Rasa nikmat
perlahan mengalir seiring gesekan itu. Makin lama makin terasa enak.
Tangan kak Dewi kupaksa agar mau melingkari pinggangku. Aku terus
menggesek dan menggesek. Sesaat aku lepaskan bajuku, aku kini telanjang
bulat, menelungkup tubuh kak Dewi yang masih terbungkus Langerie…
”shhhh….
Mmmm enak kak. Enak ! shhhhh ahhhh shhh !”, tanpa sadar aku menciumi
bahu kak Dewi. Aku semaki berani karena kak Dewi membiarkan aku menciumi
pundaknya. Makin lama tubuhku makin bergeser. Tahu-tahu aku kini berada
diantara dua paha kak Dewi. Kemaluanku menggesek-gesek persis kemaluan
kak Dewi. Sungguh nikmat. Geletar-geletar birahi makin memuncak. Aku
mendesis dan merintih sambil sesekali mendaratkan ciuman ke pundak kak
Dewi. Lambat laun aku menyadari, setiap aku bergerak dan menggesek,
tubuh kak Dewi ikut bergerak seirama gerakan tubuhku. Bahkan beberapa
kali ia membetulkan posisi pinggangku. Kemaluanku terus menggesek-gesek
kemaluan kak Dewi. Dan terus bergoyang-goyang berirama.
“Kurang keatas…sakit tahu !”, suara ka Dewi terdengar memburu.
Aku menurut. Aku bergerak lebih keatas. Paha kak Dewi bergerak seolah memberi ruang agar tubuhku bergerak lebih leluasa.
“Pelan…pelan…”, ia mendesis,
“Enak
kak?’, akhirnya kulontarkan pertanyaan itu. Kak Dewi terdiam. Namun
nafasnya semakin terdengar memburu. Jemari tangannya terasa
meremas-remas punggungku.
Tanpa meminta persetujuan aku berusaha meraih celana dalam kak Dewi.
“Mau apa ?”,
“Biar gak sakit lepasin aja yah ?”, ia sedikit mempertahankanya.
“Please
!”, kataku. Akhirnya kak Dewi menurut. Bahkan kakinya bergerak-gerak
membantuku melepaskan celana dalam itu. Aku tidak bermaksud menyetubuhi
kak Dewi. Tidak benar-benar maskudku. Biar bersentuhan lebih dekat aja.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupku. Kemaluanku menempel pada
kemaluan wanita. Sungguh sensasinya luar biasa.
Kemaluanku mengarah
kebawah, terjepit diantara paha kak Dewi. Lalu aku mulai
menggesek-kesekanya. Ada sesuatu yang hangat namun basah dibawah sana.
Semakin kugesekkan semakin terasa nikmat. Tiba-tiba aku mendengar kak
Dewi mendesah pelan. Kepalanya mendongak. Kuulangi gerakan dan
gesekanku, kembali ia mendesah. Akhirnya kuulangi gesekan diwilayah itu.
Aku senang mendengar kak Dewi mendesah-desah dan merintih. Kami
ternyata berada pada posisi saling berdekapan. Wajah kami begitu dekat.
Aku merasakan semburan nafas hangat kak Dewi. Dengan lembut kudaratkan
bibirku didagunya. Kemudian bergeser, perlahan. Akhirnya bibir kami
bertemu. Bibir kak Dewi awalnya diam tak bereaksi ketika bibirku
berusaha melumat, tapi lama kelamaan bibir itu membalas lumatan bibirku.
Kami berpagutan dan saling melumat. Semakin lama segalanya semakin
liar. Aku kini bahkan sudah mengecap, menjilat bahkan setengah menggigit
leher kak Dewi. Ketika jilatan lidahku menyerang pangkal leher dibawah
telinganya, kak Dewi mendesah dan merintih. Aku kini benar-benar membuat
kak Dewi menjadi hilang kesadaran. Ia telah menjadi benar-benar liar.
Diarahkannya kepalaku untuk menciumi dadanya. Aku maklum dengan apa yang
diinginkan kak Dewi. Aku bangit dari cengraman tubuhnya. Lalu dengan
gemetar kubuka Langerie yang dikenakan kak Dewi. Kemudian Bra yang
dikenakannya. Kini tubuh kak Dewi tak berbalut selembar benangpun,
sebagaimana aku. Tak tahan berlama-lama aku merangkul tubuh kak Dewi.
Aku menggumulinya dengan penuh nafsu. Aku jilat setiap inci tubuhnya,
semakin kak Dewi merintih semakin aku mejilat dan menggigit. Putting
susunya bergantian aku lahap. Aku bagai orang yang kesetanan. Tanpa
terasa aku mulai menjilati tubuh kak Dewi bagian bawah. Bahkan aku kini
mulai menciumi pangkal paha dan selangkangannya. Kak Dewi merintih dan
melenguh. Aku tak tahu bagaimana cara menjilat yang baik dan benar.
Pokonya semakin keras rintihan kak Dewi semakin lama aku menjilat.
Kupingku terasa berdenging dan pekak karena terjepit kedua paha kak
Dewi. Aku menjilat dan terus menjilat kemaluan kak Dewi. Meskipun
hidungku mencium aroma yang aneh, dan lidahku mengecap rasa yang aneh
pula. Aku terus menjilat. Bahkan bibirkupun mencium bagian-bagian
kemaluan kak Dewi. Aku bahagia mendengar kak Dewi Merintih-rintih dan
menjerit. Sampai kemudian kak Dewi menarik kepalaku.
“Sudah-sudah ! ngilu !”,
“Ngilu ?”, batinku. Bukanya enak ?
Nafas
kak Dewi tersengal-sengal. Aku segera mengelap mulutku dengan baju kak
Dewi, mengusir perasaan tidak nyaman dimulutku. Namun aku masih
bernafsu. Ketika aku bermaksud menaiku tubuh kak Dewi.
“Tunggu sebentar. Masih ngilu !?”, katanya.
Akhirnya aku hanya dapat menciumi perut dan dada serta payudara kak Dewi. Kedua tangan kak Dewi membelai-belai rambutku.
Tubuhku
perlahan mulai merayap kembali. Masuk kedalam dekapan hangat tubuh kak
Dewi. Rasa nikmat itu perlahan kembali mengalir. Kemaluan kami kembali
bergesekan. Dan aku mulai meracau…
“Jangan !”, kak Dewi menahan
tubuhku. Aku tak tahan lagi. Aku ingin memasukannya. Aku ingin merasakan
terbenam dalam lembah kenikmatan itu.
“Jangaaaaannn… please ! Tedy jangan !”, kak Dewi memohon ketika aku mencoba dan memaksa untuk kedua kalinya.
“Tedy udah gak tahan kak ! gak tahan lagi !”,
“Tapi Tedy udah janji, gak bakalan merusak.!”, kak Dewi menghiba.
“Tedy udah gak tahannnnnn….shhhh !”,
“Kak Dewi juga sama. Tapi please jangannnn shhh !”,
Kak
Dewi berbisik dengan nafas memburu. Aku tak tahan lagi. Namun kemudian
otak warasku hadir. Kalau dengan bantal guling saja aku bisa puas,
kenapa sekarang enggak.
Aku ambil celana dalam kak Dewi, lalu
kugunakan untuk menutupi kemaluan kak Dewi. “Tedy pengen keluar disini,
boleh yah !”. setengah memohon aku berbisik.
Karena tak dilarang
segera aku memposisikan kemaluanku. Mengarah kebawah dan terjepit paha
kak Dewi. Kedua Kemaluan kami hanya dipisah selembar celana dalam. Dan
aku kemudian mulai menggesek. Mencari sensasi kenikmatan itu. Aku
menggesek dan menggesek. Tak beberapa lama, gelombang kenikmatan itu
datang. Cratt cratt…..
Aku terkapar diatas tubuh kak Dewi.
Terdiam beberapa saat, sebelum kak Dewi mendorong tubuhku yang menindih
tubuhnya. Aku terbaring ke samping. Ingin rasanya aku memeluk kak Dewi
berlama-lama. Tapi kak Dewi buru-buru bangkit. Dikenakannya Langerie-nya
kembali. Lalu bergegas ia keluar dari kamarku. Celana dalamnya yang
basah berlumuran ditinggalkannya !
Sejak saat itu, rahasia
dirumah ini bertambah, sampai sekarang kami terus melakukanya, tidak
terlalu sering memang, namun ketika aku menginginkan atau ketika kak
Dewi “kepengen” (begitulah istilah kak Dewi), maka kami akan
melakukannya. Didapur, dikamar mandi, diruang tengah, bahkan diruang
tamu. Satu hal yang tetap kami jaga, kami tidak benar-benar bercinta,
sungguh akupun komit dengan janjiku, aku teramat menyayangi kak Dewi,
aku tak ingin merusaknya, semua yang kuperoleh telah lebih cukup bagiku.
Dan mudah-mudahan akan tetap saperti itu. --(semoga kak Dewi tak
membaca tulisan ini)--